RA Kartini
Tentang Islam
21 April 2013
RA Kartini dakwatuna.com
- Dalam
suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini
menulis;
Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang
umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama
Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika
aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya? Alquran terlalu suci; tidak
boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim.
Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar
Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca. Aku pikir, adalah gila orang
diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau
menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya. Aku pikir,
tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah
begitu Stella?
RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dalam surat
bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon. Dan waktu itu aku
tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku
tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan
dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya. Jangan-jangan, guruku pun
tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan
mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kita ini teralu suci, sehingga kami tidak
boleh mengerti apa artinya. Namun, Kartini tidak menceritakan pertemuannya
dengan Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang — lebih dikenal dengan sebutan
Kyai Sholeh Darat. Adalah Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat, yang
menuliskan kisah ini. Takdir, menurut Ny Fadihila Sholeh, mempertemukan Kartini
dengan Kyai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah
Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya. Kyai Sholeh Darat
memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang
pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh
Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang
penceramah. Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya tahu membaca Al
Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu. Setelah pengajian, Kartini
mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak
bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut
dialog Kartini-Kyai Sholeh. “Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya
apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog. Kyai
Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai
Sholeh balik bertanya. “Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan
memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Alquran. Isinya begitu
indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini. Kyai Sholeh tertegun. Sang guru
seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa
syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama
melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa.
Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?” Dialog
berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata
apa-apa kecuali subhanallah. Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh
untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa. Setelah
pertemuan itu, Kyai Sholeh menerjemahkan ayat demi ayat, juz demi juz. Sebanyak
13 juz terjemahan diberikan sebagai hadiah perkawinan Kartini. Kartini
menyebutnya sebagai kado pernikahan yang tidak bisa dinilai manusia. Surat yang
diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini
mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Sayangnya,
Kartini tidak pernah mendapat terjemahan ayat-ayat berikut, karena Kyai Sholeh
meninggal dunia. Kyai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan transformasi
spiritual. Pandangan Kartini tentang Barat (baca: Eropa) berubah. Perhatikan
surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon. Sudah lewat
masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik,
tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna?
Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat
banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban. Tidak sekali-kali
kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau
orang Jawa kebarat-baratan. Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli
1902, Kartini juga menulis; Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam,
yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat,
dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai. Lalu
dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis; “Ingin
benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah. (ts/hr/rol)
Sumber:
http://m.dakwatuna.com/2013/04/21/31833/pertemuan-itu-mengubah-pandangan-ra-kartini-tentang-islam/#ixzz2R8wEntoo
Follow us: @dakwatuna
on Twitter | dakwatunacom on Facebook



ConversionConversion EmoticonEmoticon